It’s A Big Deal

Di tengah segala keruwetan pikiran dan hati, terjadi perdebatan seru di antara dua kubu pikiran saya. Pikiran yang pertama berkata dengan meyakinkan, “Apakah ini masalah besar? It’s not a big deal you know! Ini sama sekali tidak seperti divonis kena kanker atau mendapat hukuman mati! Apakah kemungkinan terburuknya? Kemungkinan terburuknya, Jr menjadi seperti orang bisu. Dan orang bisu tetap bisa hidup, berkomunikasi dengan bahasa isyarat, bekerja dan berkeluarga!

So, it’s not a big deal!!!

“Tetapi ini masalah besar! It’s a very big deal!!!” Debat pikiran yang lain dengan tidak mau kalah. “Dia tidak bisu. Dia bisa bersuara. Otaknya juga bisa berpikir dan memberikan perintah. Hanya saja pengirim beritanya tidak tahu tersesat di mana. Kamu belum berusaha keras, belum mencoba keras. Kamu harus bersabar. Tekun melatih Jr dan berdoa!”

It’s a very big deal. Dia sekarang masih berumur empat, tetapi sudah sadar kalau dia tidak seperti yang lain. Kalau dia sudah besaran, dia akan menyadari lebih banyak hal. Dan banyak hal itu mau tidak mau akan memperngaruhi dan membentuk dia. Apakah dia akan menjadi anak yang tidak percaya diri? Menjadi anak yang minder? Menjadi anak yang tidak berkembang seperti seharusnya? Bayangkan dirimu kalau menjadi Jr!”

Pikiran tersebut terus meluruskan benang yang saling mengait di kepalaku. “Kalau bukan kamu yang mengusahakan, siapa lagi. Itu mengapa Jr diberikan kepadamu! Setiap orang tua harus mengasuh dan mendidik anak-anaknya dengan baik. Bukan itu saja, orang tua harus mengenali potensi anak, menggali potensi anak, dan mengembangkan potensi anak semaksimal mungkin untuk kemuliaan Tuhan. Hal ini berlaku juga buat Jr. Dia tidak bisu. Jadi tidak bisa disamakan dengan anak bisu! Kamu harus menolong Jr untuk mendapatkan suaranya, berapapun harga yang harus dibayar dan berapapun lamanya!”

Hampir tiap malam setelah berhasil menidurkan Jr, saya mengelus kepalanya, mencium pipinya dan berbisik di telinganya, “Anak yang lain tidak perlu berjuang untuk sekedar berbicara, tetapi kamu harus berjuang. Anak lain mempunyai masalah hidup setelah mereka mencapai umur tertentu, tetapi sejak kecil kamu harus menghadapi masalah hidup. It’s a big deal, Jr, I know. Jangan menyerah, Jr. Kita harus bekerja keras. Tuhan akan memampukan dan memberi kekuatan. Dan pada akhirnya kita akan mengetahui apakah maksud Tuhan untuk dirimu”.

 

Minggu-minggu Pertama Setelah Diagnosa

Di dalam ketidakpastian mengenai apraksia, saya mengetahui satu hal yang pasti yaitu Jr harus mengikuti terapi wicara sesegera mungkin. Jika diagnosanya salah, terapi wicara pasti akan berguna bagi Jr. Jika diagnosanya benar, apalagi!

Jr mengikuti terapi seminggu setelah diagnosa. Kami bersyukur bahwa Jr sangat antusias dan kooperatif selama terapi. Mungkin dia berpikir, “Akhirnya, ada yang mengajari saya untuk berbicara! Selama ini saya tidak tahu bagaimana cara berbicara seperti yang lain”.

Terapi demi terapi berlalu, latihan demi latihan Jr ikuti, baik di tempat terapi maupun di rumah. Tetapi selama sekitar tiga minggu pertama ini, hasilnya bisa dibilang 0.
Saya sangat sedih. Sedih karena merasa terapi tidak membantu (atau belum terlihat hasilnya). Sedih karena saya juga merasa bagaimana saya bisa melatih Jr di rumah karena sebelum terapi pun saya telah ‘melatih’ Jr tapi Jr tetap tidak bisa bicara semestinya.

Sabar, tegur saya kepada diri saya sendiri. Memang pikirmu apraksia itu sekedar telat bicara?
Emosi, hati dan pikiran saya up and down selama minggu-minggu ini… Dan tiga hal ini menemani saya ‘Bersukacitalah dalam pengharapan. Sabarlah dalam kesesakan. Bertekunlah dalam doa.’

 

Terapi Wicara

Terapi wicara yang bagaimanakah yang sesuai untuk anak dengan apraksia?

Perlu diketahui bahwa seperti ada bermacam-macam dokter, terdapat beberapa macam patologis. Dan setiap patologis mempunyai strategi dan metode terapi wicara yang berbeda-beda.

Strategi Terapi Wicara
Terdapat beberapa strategi di dalam terapi wicara. Strategi naturalistik dan strategi direktif cocok untuk anak dengan apraksia.

  • Naturalistik
    Dalam naturalistik, terapi dilakukan dengan melibatkan bermacam-macam mainan karena bermain adalah media natural bagi anak-anak.
  • Direktif
    Strategi direktif lebih mengarah ke drilling. Strategi ini dilakukan dengan proses terapis mengucapkan kata dan anak mencoba mengulangi kata tersebut.

Metode Terapi Wicara

Sebelum menentukan metode terapi, ada 2 hal yang perlu diperhatikan dalam terapi wicara, yaitu:

  • Pendekatan dari bawah ke atas (The Bottom-up Approach)
    Patologis akan memulai dari hal yang mudah/mendasar ke tingkatan yang lebih sulit seperti ‘o’ (vokal), ‘mu’ (konsonan-vokal).
  • Pendekatan hierarki (The Hierarchical Approach)
    Patologis akan memulai dari tingkat kemampuan anak, dari kata-kata yang sudah bisa diucapkan oleh si anak

Beberapa metode terapi wicara untuk anak dengan apraksia:

  • Prompts-Cue/Touch-Cue Method
  • P.R.O.M.P.T. (Prompts for Restructuring Oral Muscular Phonetic Targets)
  • Kaufman Method for Childhood Apraxia
  • Melodic Intonation Therapy
  • Dan lain-lain

Anak dengan apraksia membutuhkan terapi dengan pendekatan multisensori, yaitu anak dapat melihat, mendengar dan merasakan bunyi yang akan diucapkan.

Sampai saat ini masih belum dipastikan terapi-terapi mana yang baik dan efektif karena karakteristik anak dengan apraksia berbeda-beda (ringan/sedang/parah, mungkin juga mempunyai autis, down syndrom dan atau disorder yang lainnya). Oleh karena itu, terapi dibuat secara individual dan dilakukan privat 1 anak 1 terapis (bukan secara grup), secara intensif (paling sedikit 3 kali seminggu), ditambah dengan latihan di rumah oleh keluarga.

Perlu digarisbawahi bahwa ada metode terapi yang kurang tepat, yang tidak bisa diterapkan pada anak dengan apraksia, seperti terapi oral-motor (terapi menggerakkan mulut, mengunyah, menelan) karena terapi ini tidak melibatkan produksi suara (kecuali untuk anak dengan oral apraksia).

Untuk kasus yang sangat berat, anak dengan apraksia membutuhkan cara lain untuk mengekspresikan diri mereka seperti dengan menggunakan bahasa isyarat (sign language), menggunakan gambar (PECS, Picture Exchange Communication System), dan/atau alat komunikasi elektronik.