Masalah Berbahasa (Language Issue) – Bagian 2

Seorang anak dengan gangguan/kelainan berbahasa (language disorder) mungkin memiliki beberapa gejala di bawah ini.

Anak-anak dengan gangguan/kelainan bahasa reseptif memiliki kesulitan di dalam pemahaman. Anak-anak itu mungkin:

  • tampak tidak memperhatikan ketika orang lain berbicara kepadanya
  • tidak mempunyai ketertarikan ketika orang lain membacakan buku
  • memiliki kesulitan di dalam mengerti apa yang dikatakan oleh orang lain
  • mempunyai kesulitan di dalam mengikuti perintah (following direction) dari orang lain
  • mengulang frase yang dikatakan oleh orang lain kepadanya (ekolalia/echolalia)
  • mempunyai masalah di dalam mengkoordinasi pikiran mereka

Anak-anak dengan gangguan/kelainan bahasa ekspresif mempunyai kesulitan di dalam mengekspresikan apa yang mereka pikirkan atau butuhkan. Anak-anak itu mungkin:

  • memiliki kesulitan menggabungkan kata-kata untuk membuat kalimat, atau kalimat mereka sangat sederhana dan pendek dan beberapa tata letak kata-katanya kadang salah
  • memiliki kesulitan di dalam menemukan kata yang tepat ketika berbicara, dan mungkin mereka banyak berkata ‘hem’
  • memiliki kosakata di bawah level dari anak-anak seumuran
  • menggunakan frasa tertentu secara berulang-ulang, dan mengulangi (echo) sebagian atau seluruh pertanyaan
  • memiliki masalah di dalam menceritakan ulang suatu cerita
  • memiliki masalah di dalam memulai perbincangan atau tetap di dalam suatu perbincangan

Penyebab:

Pada umumnya, penyebab dari gangguan/kelainan berbahasa tidak diketahui, dan disebut a developmental language disorder. Tetapi beberapa pemikiran mengungkapkan adanya beberapa faktor yang bekerja secara kombinasi seperti genetik, biologis, lingkungan, dan sebagainya.

Penyebab gangguan/kelainan berbahasa yang diketahui penyebabnya adalah seperti tuli, gangguan/kelainan neurologi, down syndrome, autis atau semacamnya.

Efek:

  • Anak dengan gangguan/kelainan berbahasa akan mengalami kesulitan dalam membaca dan belajar (learning difficulties).
  • Masalah gangguan/kelainan berbahasa pada anak-anak bisa juga merupakan tanda awal dari ketidakmampuan belajar (learning disability). Ketidakmampuan ini disebabkan oleh otak yang bekerja secara berbeda.
  • Anak-anak ini mungkin akan mengalami masalah dalam kehidupan sosial mereka dan cepat atau lambat akan menjadi masalah perilaku yang parah pada anak.

Assessment oleh SLP

Anak dengan gangguan/kelainan berbahasa (language disorder)  perlu ditolong. Langkah awal yang harus dilakukan ketika orang tua merasa anaknya berbeda dari anak lain adalah membawanya sebisa mungkin ke seorang patologi wicara dan bahasa (SLP, Speech-Language Pathologists). Perlu ditekankan bahwa yang bisa melakukan assessment secara menyeluruh adalah SLP, bukan terapis wicara/bahasa, bukan dokter anak, bukan dokter neurologi anak.

Mengapa SLP? Karena masalah gangguan/kelainan wicara/berbahasa adalah masalah yang kompleks. Terdapat banyak variasi, jenis, tipe dan tingkat keparahan pada masalah gangguan/kelainan wicara dan bahasa. Dan terapis atau dokter anak tidak mempelajari semua itu.

Apa yang dilakukan SLP? SLP akan melihat beberapa hal berikut:

  • apa yang dimengerti anak (bahasa reseptif)
  • apa yang dikatakan anak (bahasa ekspresif)
  • apakah anak juga berkomunikasi dengan cara lain seperti menunjuk, menganggukkan kepala, menggelengkan kepala dan seterusnya
  • perkembangan suara dan kejelasan wicara
  • status oral motor anak (mulut, lidah dan sebagainya baik yang diperlukan untuk berbicara maupun menelan))

Tujuan dari assessment adalah:

  • untuk menentukan apakah anak mempunyai masalah berbahasa
  • untuk mengetahui secara spesifik area mana yang bermasalah
  • untuk memperkirakan penyebab masalahnya
  • untuk membuat goal/target perencanaan terapi yang akan dilakukan

What Next?

Terapi, Terapi dan Terapi … Itu yang diperlukan anak!

Dengan terapi, anak akan berkomunikasi dengan lebih baik. Ketika anak dapat berkomunikasi dengan lebih baik, satu hal yang pasti, perilaku anak akan lebih baik.

Berapa lama? Bisakah berkomunikasi normal seperti anak-anak seumurnya? Hal ini tidak ada yang tahu. Semua bergantung pada kondisi anak, terapi yang dilakukan, lingkungan anak dan pertolongan orang tua (juga anggota keluarga yang serumah) yang setiap harinya berkomunikasi dengan anak.

Tips

Beberapa tips yang dapat dilakukan orang tua terhadap anak (yang kadang harus direncanakan atau dikondisikan):

  • mendengarkan dan meresponi anak dengan baik
  • berbicara, MEMBACA dan bermain dengan anak
  • berbicara tentang apa yang sedang kita lakukan dan apa yang anak sedang kerjakan
  • merencanakan komunikasi 2 arah dengan bertanya kepada anak
  • menggunakan banyak kata-kata yang berbeda
  • menggunakan kalimat yang lebih panjang ketika anak juga bertambah besar
  • mendengarkan lagu-lagu dan menyanyi bersama
  • mengkondisikan anak untuk bermain dengan anak lain (yang lebih suka mengoceh)

Berapapun usia anak Anda, mengenali dan mencari bantuan sesegera mungkin adalah langkah terbaik yang bisa Anda lakukan untuk menolong anak Anda. Dengan terapi yang tepat, anak Anda akan lebih mampu berkomunikasi dengan Anda dan mungkin kepada seluruh dunia.

Catatan: Pada umumnya yang terjadi di Indonesia, anak diperiksakan ke terapis wicara atau dokter neurologi anak atau dokter tumbuh kembang anak. Asalkan mereka dapat memberikan pertolongan dan terapi yang efektif, ini lebih baik daripada anak tidak mendapatkan pertolongan sama sekali. Saya berencana akan menulis tentang SLP secara lebih detil dan menuliskan daftar SLP di Indonesia kalau memungkinkan. Untuk itu, saya membutuhkan bantuan pembaca yang mengetahuinya. Anda dapat mengirimkan nama beserta alamat tempat praktek SLP ke email apraksiadotcom@gmail.com. Daftar yang diberikan pasti akan bermanfaat bagi kita semua. Terima kasih.

Advertisements

Ekolalia (Echolalia)

Istilah ekolalia (echolalia) berasal dari bahasa Latin ēchō yang berarti ‘suara’ dan bahasa Yunani laliá yang  berarti ‘berbicara’. Kata ēchō berasal dari bahasa Yunani ēchḗ yang juga berarti ‘suara (Sumber: Wikipedia).

Ekolalia (echolalia) adalah pengulangan dari apa yang dikatakan oleh orang lain. Anak dengan ekolalia akan meniru perkataan yang mereka dengar dari orang lain dalam kehidupan sehari-harinya, atau mengulang kalimat sebuah buku yang dibacakan kepada mereka, atau lirik lagu yang mereka dengar, atau ucapan dari sebuah acara atau film yang mereka tonton; tanpa mereka mengerti atau menggunakannya dengan tepat.

Ekolalia ternyata adalah bagian dari perkembangan bahasa yang normal dan merupakan cara bagaimana kebanyakan anak-anak belajar berbahasa (dengan cara meniru). Ekolalia umumnya dijumpai pada anak-anak balita berumur 18 bulan, dan akan berangsur-angsur hilang pada umur sekitar 30 bulan dengan berkembangnya kemampuan berbahasa mereka.

Ekolalia juga merupakan salah satu karakteristik yang banyak dijumpai pada anak-anak autis yang verbal. Dan anak dengan apraksia juga mempunyai kemungkinan mengalami fase ekolalia. Ada dua alasan yang mungkin menjadi penyebabnya. Alasan pertama, salah satu cara yang diajarkan kepada anak-anak dengan apraksia belajar berkata-kata adalah dengan cara meniru. Jadi kemungkinan alasannya adalah mereka melanjutkan kebiasaan meniru tersebut. Alasan kedua, meniru kalimat yang pernah dia dengar atau yang telah diajarkan mungkin lebih mudah bagi anak dengan apraksia daripada membuat kalimat baru sendiri.

Tanda-tanda Ekolalia

Tanda-tanda ekolalia yang utama adalah pengulangan. Sebagai contoh, anak dengan ekolalia akan  mengulang pertanyaan yang diajukan dan bukannya menjawab pertanyaan yang diajukan kepada mereka. Kemungkinan besar dikarenakan karena mereka tidak mengetahui bagaimana harus menjawab atau mereka tidak tahu jawabannya.    Tanda lain adalah anak tampak frustasi ketika mereka ditanya di dalam suatu percakapan.

2 Macam Ekolalia

Terdapat 2 macam ekolalia. Ekolalia langsung (Immidiate Echolalia) dan Ekolalia tertunda (Delayed Echolalia). Pengulangan yang dilakukan secara langsung oleh anak setelah anak mendengar adalah ekolalia langsung. Contohnya, seorang anak ketika ditanya oleh orang tuanya, “Maukah kamu pergi?” Anak menjawab dengan “Maukah kamu pergi?”, dan bukannya menjawab dengan jawaban “Mau” atau “Tidak mau”. Sedangkan ekolalia tertunda adalah ekolalia yang dilakukan anak setelah beberapa waktu ia mendengar. Contohnya, anak berkata “Mama datang, Mama datang”, padahal ibunya sedang pergi.

2 Manfaat Ekolalia

Baik langsung maupun tertunda, ekolalia mempunyai 2 manfaat, yaitu interaktif dan non-interaktif.

Interaktif maksudnya, anak mengatakan frase/kalimat dengan tujuan untuk berkomunikasi, memberikan info, menjawab pertanyaan atau meminta sesuatu. Contohnya, ketika anak tampak stress dalam mengerjakan sesuatu dan dia berkata berulang-ulang, “Mama akan menolong, Mama akan menolong…..” Maksud sebenarnya dari anak adalah dia tidak bisa melakukan pekerjaan itu dan dia meminta ibunya untuk menolong. Kalimat ‘Mama akan menolong’ adalah kalimat yang dia sering dengar dari ibunya ketika dia dalam kesulitan mengerjakan sesuatu.

Non-interaktif maksudnya, anak berkata berulang-ulang kepada dirinya sendiri untuk proses meregulasi/menenangkan dirinya sendiri.

Bagaimana mengatasi ekolalia?

Ekolalia adalah bagian alami dari perkembangan kemampuan berbahasa. Bukanlah merupakan ide yang baik untuk mencegah ekolalia sepenuhnya ketika masih ada manfaat yang masih dapat didapatkan. Dan untuk anak dengan apraksia, ekolalia juga bisa dijadikan untuk menstimulasi perkembangan berbicara secara fungsional anak.

Tetapi untuk menghindari ekolalia permanen, orang tua harus mendorong berbagai bentuk komunikasi dengan anak. Dan kunci untuk mengatasi ekolalia adalah dengan membentuk setiap kata, frase atau kalimat seperti yang seharusnya anak katakan. Anak diajarkan baik bahasa reseptif maupun ekspresif dengan metode-metode yang ada dengan bantuan SLP/terapis. Dan dalam jangka waktu tertentu, pada umumnya anak akan mampu mengatasi ekolalia mereka.

Catatan: Artikel ini telah di-copas oleh orang lain (website lain) tanpa izin dari http://www.apraksia.com. Perlu diketahui bahwa artikel ini merupakan original tulisan Blessed Mom. Mohon mengutip sumber website www.apraksia.com jika Anda copas (copy & paste) bagian manapun dari website http://www.apraksia.com