Diagnosa dan Pertanyaan

Ketika mendengar diagnosa bahwa Jr mempunyai apraksia dan mendengarkan penjelasan mereka yang jelas, membuat saya merasa tidak jelas sama sekali.

Di hati dan pikiran saya bermunculan pertanyaan-pertanyaan… Apakah benar Jr mempunyai apraksia? Apa mereka tidak salah melakukan diagnosa? Apakah Jr bisa sembuh? Dapat darimana ini apraksia?

Apakah terapi wicara satu-satunya cara? Tidak mungkinkah Jr bisa bicara-bicara sendiri kalau sudah waktunya? Bagaimana model terapinya? Apakah sama dengan terapi wicara pada umumnya? Apakah mereka tahu benar cara memberikan terapi yang baik dan benar? Apakah mereka sudah mempunyai terapis buat anak apraksia? Apakah mereka juga mempunyai ‘pasien’ anak dengan apraksia dan sukses membantunya? Apakah harus survei tempat-tempat terapi yang ada? Saya dengar sebelumnya ada yang dipijat, ada yang dilaser, dan ini itu… Apakah Jr juga harus menjalaninya?

Kalau sudah mengikuti terapi, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk melihat adanya perubahan/bisa tidaknya dia mengucapkan suku kata atau kata yang diajarkan? Berapa lama Jr harus diterapi? Apakah dengan terapi, berapapun lamanya, Jr bisa berbicara dengan normal ketika besar?

Apakah di Indonesia ini, atau bahkan di dunia terdapat banyak anak yang mempunyai apraksia? Siapa di Indonesia atau di dunia ini yang mempunyai apraksia dan sekarang baik-baik saja? Masih banyak lagi pertanyaan, ketidakjelasan yang ada di hati dan pikiran saya dalam perjalanan pulang.

BERDOA, jangan lupa kata saya …

Dan saya lupa juga kalau ada internet, ada google yang selama ini adalah sumber pencarian apapun.

Setelah sadar, saya cari dan cari dan cari…
Saya baca dan baca dan baca…
Berminggu-minggu saya mencari tahu…

Saya bersyukur sekali pada Tuhan bahwa sudah ada internet dan tentu saja FACEBOOK pada zaman ini. Saya tidak pernah membutuhkannya se-urgent sekarang.

Diagnosa & Perencanaan Terapi

Umumnya seorang patologis akan  memberikan diagnosa formal bahwa seorang anak mempunyai apraksia setelah anak tersebut berumur 3 tahun. Hal ini disebabkan karena banyak yang mungkin terjadi pada perkembangan anak di antara usia 2-3 tahun. Dan diagnosa yang diberikan meliputi pengamatan anak yang sudah bersuara.  Selain itu juga untuk menghindari kesalahan diagnosa.

Meskipun demikian, anak yang telat bicara (dengan atau tanpa indikasi apraksia), dianjurkan untuk mengikuti terapi wicara. Hal ini perlu dilakukan untuk kebaikan anak.

Setelah mendapat diagnosa apraksia, anak dengan apraksia harus mengikuti terapi wicara. Anak dengan apraksia tidak dapat berbicara dengan sendirinya tanpa terapi, seperti anak-anak yang mengalami keterlambatan bicara umumnya.

Dari data yang ada, anak dengan apraksia umumnya  membutuhkan terapi 2-12 tahun untuk dapat berbicara seperti layaknya anak normal. Tetapi, ada juga beberapa anak dengan apraksia yang setelah menjalani bertahun-tahun terapi tetapi masih tidak bisa berbicara seperti orang normal ketika dewasa.

 

Perencanaan Terapi

Seorang patologi yang baik, akan membuat rencana terapi khusus buat setiap anak. Seperti halnya sekolah mempunyai program/kurikulum untuk tiap tingkatan. Demikian halnya dengan setiap jasa yang mereka berikan. Dan jelas, terapi wicara yang dilakukan untuk anak dengan apraksia akan mempunyai metode yang berbeda dari terapi wicara untuk anak yang terlambat bicara pada umumnya.

Perencanaan yang dibuat harus mempunyai arahan yang jelas, yang mengandung ukuran-ukuran SMART

  • Specific: di dalam perencanaan ada target-target artikulasi yang akan dicapai. Misal, konsonan-vokal, konsonan-vokal-konsonan, jumlah suku kata, …
  • Measurable: 80% akurasi penyebutan kata (1 suku kata/kata diucapkan 5 kali, misalnya)  yang dimaui selama2-3 kali terapi
  • Attainable: patologis akan mendeskripsikan kondisi terapi yang akan dilakukan (terapis membawa catatan untuk mencatat sesi terapi yang berlangsung)
  • Realistic: target yang ditetapkan dalam perencanaan sesuai dengan kondisi kemajuan anak, kapasitas anak, tidak muluk-muluk
  • Toward dismissal: perencanaan yang dibuat mempunyai jangka waktu/periode tertentu, untuk mendapatkan evaluasi dan perencanaan berikutnya, seperti setiap 6 bulan, setiap tahun…. menuju pada kebebasan anak dari terapi

Perencanaan ini sangat penting karena menyangkut waktu yang dipakai, tenaga yang dihabiskan dan yang terpenting adalah perkembangan anak kita. Kita tidak mau terapi yang dilakukan tidak baik karena terapi adalah satu-satunya cara anak kita dapat berbicara.

Awalnya…

Website ini diawali karena Jr…

Jr adalah seorang anak yang sangat cerewet. Dia suka berbicara, mengarang cerita sendiri saat bermain dengan mainan kereta api Thomas kesukaannya, berkomunikasi dengan helikopter Harold nya. Tetapi semua bicaranya tidak dapat dimengerti. Seperti ocehan bayi, demikian juga ocehan Jr.

Pada waktu Jr berumur sekitar 3 tahun, untuk memastikan Jr baik-baik saja, untuk memastikan hanya sekedar telat bicara, saya memeriksakannya ke seorang ahli terapis wicara. Beliau memeriksa leher, mulut, rahang, lidah dsb dan mengatakan kalau kondisi Jr baik, tidak usah terlalu kuatir. Beliau menganjurkan untuk menyekolahkan Jr agar mendapatkan lingkungan yang lebih kondusif untuk berbicara dengan teman-temannya. Jr tidak memerlukan terapi.

Setelah Jr sekolah, tampak bahwa Jr lebih banyak mengoceh dan menyanyi. Tetapi tetap saja tidak dimengerti, meskipun selalu ada tambahan bunyi baru.
Dan setiap ada tambahan bunyi yang dia ocehkan, saya selalu berpikir … tidak lama lagi, Jr pasti bicara …

Bulan demi bulan berlalu, sampai suatu momen saya sadar kalau ocehan Jr itu konsisten. Maksud saya, dia itu berbahasa tapi cuman dia sendiri yang mengertinya. Bukan asal mengoceh. Saya juga mengamati bahwa semua ocehannya mengandung semua vokal a i u e o, tetapi sedikit konsonan (b, d, g, k, p, w, y).

Setelah mencari berbagai informasi tentang terapis wicara, psikolog, psikiater, akhirnya saya memeriksakan Jr ke klinik perkembangan anak. Di klinik ini ada 2 dokter spesialis rehabilitasi medik dan seorang ahli patologi wicara yang memeriksa Jr dan mendiagnosanya dengan apraksia.

Jr berumur 4 tahun pada saat dia mendapat diagnosa apraksia.