Ada Kondisi Lain…

Terakhir kali saya menceritakan kondisi Jr, saya menulis…

“… bahwa meskipun Jr sudah bisa menirukan hampir semua yang kami ucapkan, Jr masih belum bisa diajak dialog secara verbal (minim sekali). Maksudnya, jika saya berkata, “Hai, Jr!”, Dia akan membalas, “Hai, Jr!”

Saya menganggap bahwa setelah dia bisa bicara (menirukan hampir semua yang kita ucapkan), semua akan berjalan baik dan komunikasi Jr akan seperti layaknya anak normal. Ternyata, tidaklah demikian…

Jr akan berbicara pada waktu latihan artikulasi (PR dari terapi) dan kebanyakan, dia akan berbicara ketika dia ditanya. Tapi itupun merupakan pengulangan dari apa yang saya tanyakan kepadanya. Tidak ada inisiatif bicara dari dia sendiri.

Perlahan-lahan, saya mulai mengajarnya untuk berkata, ‘Ma, saya mau TV’, ketika dia memberikan remote TV kepada saya. Atau ‘Ma, saya mau susu’, ketika dia membuka kulkas dan mau menuang susu sendiri ke gelasnya.

Dan, Puji Tuhan! Setelah berminggu-minggu, Jr mulai keluar inisiatif bicaranya. Jr bisa bilang, ‘Jr, apa kamu mau donat?’, ketika melihat toko donut di mal. Atau ‘Jr, kamu pasti bisa!’, ketika dia membuat PR menulis dari sekolahnya.

Saya berpikir bahwa ini semua adalah proses. Karena dia selama ini hanya diajarkan berbicara melalui menirukan apa yang terapis atau saya katakan, makanya ketika dia mau sesuatu atau dalam kondisi tertentu, dia akan mengatakan/menirukan apa yang bakal saya katakan kepadanya.

Suatu hari, saya share kondisi Jr, dan ada yang menyebutkan kata ECHOLALIA. Saya terkejut…Ternyata, ada namanya! Ternyata, ada kondisi gangguan/kelainan komunikasi yang namanya echolalia!

Ketika saya membicarakan hal ini kepada pathologist Jr, dia berjanji akan melakukan assessment lagi buat Jr, sekalian menentukan goal-goal berikutnya karena banyak dari goal-goal yang sebelumnya sudah Jr capai. Dia sedikit menjelaskan bahwa echolalia adalah hal yang berbeda dari apraksia. Apraksia adalah masalah speech. Sedangkan Echolalia adalah masalah language. Bisa language delay, bisa language disorder di belakang echolalia

Saya benar-benar merasa seperti pada waktu pertama kali mendengar kata apraksia. Saya mulai kuatir banyak, bingung lagi, sedih lagi. Saya harus mulai mencari tahu, bertanya dan membaca tentang echolalia.

Meskipun saya stress karena merasa kok ‘one after another‘. Terus terang, saya juga bersyukur dengan setiap kemajuan yang Jr capai sampai saat ini, sekecil apapun. Saya sungguh berharap Jr dapat menjadi anak ‘normal’.

Saya akan menulis tentang echolalia di post berikut.

Setelah 3 Minggu Pertama Terapi

Apakah yang terjadi setelah 3 minggu pertama terapi?

Setelah 3 minggu pertama yang membuat saya up and down, Jr mulai mengartikulasikan setiap kata yang diajarkan kepadanya dengan baik sekali!

Saya tidak tahu dengan benar bagaimana proses itu terjadi. Tapi nampaknya dia mulai mengerti CARA melafalkan setiap konsonan, mengucapkan setiap kata/suku kata yang diajarkan.

Dalam satu bagian terapi yang berbentuk drilling, Jr diberikan satu kertas yang berisi gambar dan kata yang menerangkan gambar yang bersangkutan. Setiap kertas berisi 12 gambar/kata yang berbeda. Setelah Jr diajar untuk mengucapkannya, Jr harus mengucapkan kata yang sama sebanyak 5 kali. Jr dianggap bisa dan lulus jika dia mengucapkan dengan akurasi 80% dan kertas dengan daftar kata yang lain akan diberikan. Kata-kata yang dilatih ini mempunyai struktur.

Setelah 3 minggu itu, setiap kali terapi, Jr diberikan 2-3 kertas. Dan setelah 4 bulan terapi, Jr menyelesaikan 900 kata yang terdiri dari 1 sampai 3 silabel. 900 kata ini terdiri dari berbagai variasi konsonan-vokal. Dengan kata lain, Jr sudah mampu meniru semua kata yang kita katakan padanya, bukan hanya sekedar terbatas 900 kata itu saja.
Bayangkan, dari perbendaharaan yang kurang dari 10 kata, Jr setelah 4 bulan terapi dapat meniru semua kata yang kita ucapkan! Betapa bersyukurnya kami:)

Tahap selanjutnya, Jr diajar untuk menyusun kata-kata menjadi kalimat sepert Subjek-Predikat, bertahap ke Subjek-Predikat-Objek dan seterusnya.

Perlu diketahui bahwa, meskipun Jr sudah bisa menirukan hampir semua yang kita ucapkan, Jr masih belum bisa diajak dialog secara verbal (minim sekali). Maksudnya, jika saya berkata, “Hai, Jr!”, Dia akan membalas, “Hai, Jr!”

Perjalanan masih jauh, ternyata …

It’s A Big Deal

Di tengah segala keruwetan pikiran dan hati, terjadi perdebatan seru di antara dua kubu pikiran saya. Pikiran yang pertama berkata dengan meyakinkan, “Apakah ini masalah besar? It’s not a big deal you know! Ini sama sekali tidak seperti divonis kena kanker atau mendapat hukuman mati! Apakah kemungkinan terburuknya? Kemungkinan terburuknya, Jr menjadi seperti orang bisu. Dan orang bisu tetap bisa hidup, berkomunikasi dengan bahasa isyarat, bekerja dan berkeluarga!

So, it’s not a big deal!!!

“Tetapi ini masalah besar! It’s a very big deal!!!” Debat pikiran yang lain dengan tidak mau kalah. “Dia tidak bisu. Dia bisa bersuara. Otaknya juga bisa berpikir dan memberikan perintah. Hanya saja pengirim beritanya tidak tahu tersesat di mana. Kamu belum berusaha keras, belum mencoba keras. Kamu harus bersabar. Tekun melatih Jr dan berdoa!”

It’s a very big deal. Dia sekarang masih berumur empat, tetapi sudah sadar kalau dia tidak seperti yang lain. Kalau dia sudah besaran, dia akan menyadari lebih banyak hal. Dan banyak hal itu mau tidak mau akan memperngaruhi dan membentuk dia. Apakah dia akan menjadi anak yang tidak percaya diri? Menjadi anak yang minder? Menjadi anak yang tidak berkembang seperti seharusnya? Bayangkan dirimu kalau menjadi Jr!”

Pikiran tersebut terus meluruskan benang yang saling mengait di kepalaku. “Kalau bukan kamu yang mengusahakan, siapa lagi. Itu mengapa Jr diberikan kepadamu! Setiap orang tua harus mengasuh dan mendidik anak-anaknya dengan baik. Bukan itu saja, orang tua harus mengenali potensi anak, menggali potensi anak, dan mengembangkan potensi anak semaksimal mungkin untuk kemuliaan Tuhan. Hal ini berlaku juga buat Jr. Dia tidak bisu. Jadi tidak bisa disamakan dengan anak bisu! Kamu harus menolong Jr untuk mendapatkan suaranya, berapapun harga yang harus dibayar dan berapapun lamanya!”

Hampir tiap malam setelah berhasil menidurkan Jr, saya mengelus kepalanya, mencium pipinya dan berbisik di telinganya, “Anak yang lain tidak perlu berjuang untuk sekedar berbicara, tetapi kamu harus berjuang. Anak lain mempunyai masalah hidup setelah mereka mencapai umur tertentu, tetapi sejak kecil kamu harus menghadapi masalah hidup. It’s a big deal, Jr, I know. Jangan menyerah, Jr. Kita harus bekerja keras. Tuhan akan memampukan dan memberi kekuatan. Dan pada akhirnya kita akan mengetahui apakah maksud Tuhan untuk dirimu”.