Diagnosa & Perencanaan Terapi

Umumnya seorang patologis akan  memberikan diagnosa formal bahwa seorang anak mempunyai apraksia setelah anak tersebut berumur 3 tahun. Hal ini disebabkan karena banyak yang mungkin terjadi pada perkembangan anak di antara usia 2-3 tahun. Dan diagnosa yang diberikan meliputi pengamatan anak yang sudah bersuara.  Selain itu juga untuk menghindari kesalahan diagnosa.

Meskipun demikian, anak yang telat bicara (dengan atau tanpa indikasi apraksia), dianjurkan untuk mengikuti terapi wicara. Hal ini perlu dilakukan untuk kebaikan anak.

Setelah mendapat diagnosa apraksia, anak dengan apraksia harus mengikuti terapi wicara. Anak dengan apraksia tidak dapat berbicara dengan sendirinya tanpa terapi, seperti anak-anak yang mengalami keterlambatan bicara umumnya.

Dari data yang ada, anak dengan apraksia umumnya  membutuhkan terapi 2-12 tahun untuk dapat berbicara seperti layaknya anak normal. Tetapi, ada juga beberapa anak dengan apraksia yang setelah menjalani bertahun-tahun terapi tetapi masih tidak bisa berbicara seperti orang normal ketika dewasa.

 

Perencanaan Terapi

Seorang patologi yang baik, akan membuat rencana terapi khusus buat setiap anak. Seperti halnya sekolah mempunyai program/kurikulum untuk tiap tingkatan. Demikian halnya dengan setiap jasa yang mereka berikan. Dan jelas, terapi wicara yang dilakukan untuk anak dengan apraksia akan mempunyai metode yang berbeda dari terapi wicara untuk anak yang terlambat bicara pada umumnya.

Perencanaan yang dibuat harus mempunyai arahan yang jelas, yang mengandung ukuran-ukuran SMART

  • Specific: di dalam perencanaan ada target-target artikulasi yang akan dicapai. Misal, konsonan-vokal, konsonan-vokal-konsonan, jumlah suku kata, …
  • Measurable: 80% akurasi penyebutan kata (1 suku kata/kata diucapkan 5 kali, misalnya)  yang dimaui selama2-3 kali terapi
  • Attainable: patologis akan mendeskripsikan kondisi terapi yang akan dilakukan (terapis membawa catatan untuk mencatat sesi terapi yang berlangsung)
  • Realistic: target yang ditetapkan dalam perencanaan sesuai dengan kondisi kemajuan anak, kapasitas anak, tidak muluk-muluk
  • Toward dismissal: perencanaan yang dibuat mempunyai jangka waktu/periode tertentu, untuk mendapatkan evaluasi dan perencanaan berikutnya, seperti setiap 6 bulan, setiap tahun…. menuju pada kebebasan anak dari terapi

Perencanaan ini sangat penting karena menyangkut waktu yang dipakai, tenaga yang dihabiskan dan yang terpenting adalah perkembangan anak kita. Kita tidak mau terapi yang dilakukan tidak baik karena terapi adalah satu-satunya cara anak kita dapat berbicara.

Diagnosa Apraksia

Bagaimana mendapatkan kepastian diagnosa untuk apraksia?

Pertama-tama, untuk semua anak yang terlambat berbicara diperlukan untuk melakukan tes pendengaran. Tes seperti OAE dan mungkin, BERA, diperlukan untuk menghilangkan kemungkinan permasalahan di pendengaran anak.

Kedua, diperlukan seorang patologi wicara, a speech language pathologist (certified-SLP), untuk melakukan diagnosa atau evaluasi yang diperlukan, untuk memastikan apakah anak memiliki apraksia.

Patologi wicara akan melihat 3 hal ini:

Kemampuan motorik oral anak

  • Melihat apakah ada masalah (lemah tidaknya) otot bibir, rahang, lidah. Anak yang mempunyai apraksia tidak mempunyai masalah dengan ini
  • Melihat seberapa baik anak menirukan gerakan mulut tanpa bersuara, seperti menggoyangkan lidah dari ujung kanan ke kiri, menjulurkan lidah ke atas dan bawah, tersenyum, dst.
  • Mengevaluasi koordinasi dan pengurutan pergerakan otot wicara ketika anak diminta mengucapkan serangkaian bunyi seperti pa-tah-kah secepat mungkin
  • Melihat kemampuan gerak otomatis anak secara riil (menjilat lolipop secara riil) dan membandingkannya dengan ketika anak diminta secara imajinasi (berimajinasi menjilat lolipop)

Melodi/intonasi bicara anak

  • Memastikan anak memberikan penekanan yang benar pada pengucapan kata maupun kata di dalam suatu kalimat
  • Mengamati apakah anak dapat menggunakan nada koma, nada tanya, nada berhenti dengan benar untuk membedakan tipe kalimat, maupun memberikan jedah untuk menunjukkan pergantian dari kalimat satu ke kalimat yang lain

Kejelasan bicara/pelafalan

  • Mengevaluasi bunyi vokal dan konsonan
  • Melihat seberapa baik pengucapan bunyi individu dan bunyi gabungan, seperti i, bi, bik, bis
  • Melihat seberapa baik orang lain dapat mengerti pengucapan anak dalam pengucapan satu kata, satu kalimat dan dalam bahasa sehari-hari

Patologi wicara juga akan melihat kemampuan mengerti anak, kemampuan mengekspresikan diri dalam berbicara dan sebagainya untuk melihat masalah lain yang mungkin ada. Diagnosa dari seorang patologi wicara sangat penting untuk memastikan bahwa anak memang mempunyai apraksia dan bukan gangguan/kelainan bicara yang lain, karena tidak sedikit macamnya…